QueenNews.co.id / BANDUNG BARAT – Hujan deras yang mengguyur kawasan Cisarua sejak Kamis malam (22/1) bukan sekadar kendala cuaca biasa bagi Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Gobang 7. Di tengah simulasi operasi Ambush (penghadangan), alam justru memberikan kejutan mematikan. Hingga Sabtu pagi (24/1), sebanyak 23 prajurit Korps Marinir dilaporkan hilang kontak setelah material tanah longsor menerjang area latihan mereka di Pasirlangu.
Investigasi di lapangan menunjukkan adanya keganjilan pada sistem komunikasi sesaat sebelum bencana terjadi. Berdasarkan data yang dihimpun, 23 personel tersebut terbagi dalam dua kelompok: 15 prajurit dari Pos TK Fuog di bawah pimpinan Serka Mar Apriansyah, dan 8 prajurit dari Pos TK Asiafsaman yang dipimpin Serda Mar Riswan.
Kronologi yang didapatkan tim mengungkap detik-detik mencekam tersebut:
- Pukul 20.00 WIB (Jumat): Seluruh personel menempati titik koordinat penghadangan. Meskipun dibekali alat komunikasi (alkom) canggih mulai dari HT Dualmode, Hytera, Wylan, hingga telepon seluler, gangguan mulai muncul.
- Pukul 24.00 WIB: Kontak terakhir dari kelompok TK Asiafsaman. Setelah itu, senyap.
- Pukul 02.30 WIB (Sabtu): Kelompok TK Fuog gagal dihubungi. Upaya penyambungan melalui HT Dualmode nihil hasil.
- Pukul 03.00 WIB: Longsor hebat dilaporkan menyapu titik koordinat latihan.
Kepedihan mendalam terasa saat tim pelatih dan pengawas (Wastim) melakukan pengecekan di titik Ambush Asiafsaman pada Sabtu pagi pukul 05.30 WIB. Di lokasi yang seharusnya dijaga ketat oleh prajurit terlatih, hanya ditemukan sisa makanan dan minuman. Para prajurit hilang tanpa jejak.
Pencarian yang dilakukan dalam radius 100 meter dari titik nol belum membuahkan hasil. Saat ini, fokus pencarian yang dipimpin langsung oleh Dansatgas Gobang 7 berkoordinasi dengan Pusdiklatpasus terkendala oleh medan yang labil dan cuaca ekstrem yang masih mengancam.
Tragedi ini memicu pertanyaan besar mengenai prosedur keselamatan latihan (SOP). Meski titik koordinat telah ditentukan berdasarkan penyelidikan patroli keamanan sebelumnya, intensitas hujan yang turun tanpa henti sejak dua hari sebelumnya seharusnya menjadi sinyal merah bagi penyelenggara latihan.
"Apakah faktor risiko geologis di daerah Pasirlangu sudah dikaji secara mendalam sebelum menempatkan puluhan personel di titik rawan saat cuaca ekstrem?" menjadi pertanyaan kunci yang perlu dijawab oleh otoritas terkait.
Hingga berita ini diturunkan, berikut adalah nama-nama prajurit yang masih belum diketahui keberadaannya:
Kelompok TK Fuog (15 Personel):
Serka Mar Apriansyah, Koptu Mar Edi, Praka Mar Ari, Serda Mar Sidiq, Serda Mar Antoni, Pratu Mar Dirwa, Praka Mar Andre, Serda Mar Erick, Praka Mar Ulil, Praka Mar Randa, Praka Mar Anton Kharisma, Pratu Mar Genta, Serda Mar Rain Pasau, Praka Mar Qori, Koptu Mar Coni.
Kelompok TK Asiafsaman (8 Personel):
Serda Mar Riswan, Praka Mar Mahfudi, Pratu Mar Yoga, Pratu Mar Heru, Pratu Mar Hamid, Pratu Mar Febri, Prada Mar Burton, Pratu Mar Andiko.
Keluarga prajurit kini menanti kabar di tengah kepulan kabut Cisarua. Sementara itu, pihak Brigif 4 Mar/BS belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah evaluasi pasca-insiden ini.(Mel)

