QueenNews.co.id / Bandarlampung — Pertarungan perebutan BE-1 Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) sudah hampir memasuki babak final. Dari kesepuluh Guru Besar yang telah ditetapkan sebagai calon Rektor UIN RIL, akan segera kita ketahui siapa yang bakal terpilih.
Akankah petahana, wajah lama yang belum pernah menang, atau penantang baru yang akan melenggang sebagai rektor terpilih UIN RIL 2026-2030?
Kita tidak pernah tahu persis siapa yang bakal menang, karena pertarungan rektor UIN tak sesederhana yang terlihat dan terdapat begitu banyak faktor yang menentukan hasil akhir kompetisi.
Ada begitu banyak faktor penentu kemenangan bagi calon rektor, mulai dari integritas, rekam jejak, backgroundorganisasi, dukungan petinggi Kementerian Agama, lobi-lobi politik, hingga dukungan elit pengusaha lokal maupun elit pemerintahan di Jakarta.
Dari banyaknya faktor di atas, akan sangat berbahaya jika calon rektor terpilih adalah orang titipan pengusaha atau elit kekuasaan. Calon yang sejak awal dipilih bukan berdasarkan rekam jejak dan integritas, apalagi tidak independen, akan lebih banyak membawa mudarat ketimbang manfaat bagi pendidikan kita.
Maka demi menjamin perbaikan kualitas pendidikan di UIN Lampung, diharapkan pertimbangan utama Menteri Agama dalam menentukan siapa yang akan terpilih adalah pada sisi rekam jejak serta integritas calon rektor.
Ketua Presidium Serikat Alumni Raden Intan Lampung (Siaril) Jabodetabek, R. Basuki, meminta Menteri Agama memilih dengan cermat. Jangan sampai terbuai lobi politik dan janji manis para calon rektor. Dalam prosesnya, Menteri wajib mendengarkan aspirasi mahasiswa dan alumni sebagai bahan pertimbangan.
Siaril Jabodetabek sebagai wadah perkumpulan alumni UIN Lampung yang selama menjadi mahasiswa aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan aktivisme, diwakili Ketua Presidium R. Basuki, turut menyampaikan pandangannya terkait calon BE-1 kampus hijau itu.
Siaril menilai wajah lama seperti Prof. Wan (petahana) dan Prof. Alam (WR 1 petahana) sudah tidak relevan dengan situasi kampus saat ini.
Setidaknya selama 4 tahun terakhir, duet kedua calon ini sebagai BE-1 dan BE-2 UIN RIL terbukti gagal. Hal tersebut dapat dilihat dengan menurunnya kualitas pendidikan sehingga berdampak pada para alumni yang kurang dapat bersaing di dunia kerja. UIN RIL saat ini sukses menghasilkan banyak wirausahawan muda karena para alumni tidak bisa bersaing dengan kampus lain jika mengandalkan kompetensi dan ijazah UIN RIL.
Persoalan tersebut memiliki efek domino hingga berdampak terjadinya penurunan minat calon mahasiswa untuk berkuliah di UIN RIL secara signifikan.
Ironisnya, para pimpinan UIN RIL yang saat ini mencalonkan diri sebagai rektor merasa kampus baik-baik saja. Mereka terbuai oleh survei-survei yang menempatkan UIN RIL pada posisi teratas seolah sudah bisa bersaing dan dapat disamakan dengan kampus besar lainnya.
Padahal semua itu hanyalah realitas semu. Ketika dibandingkan dengan realitas sebenarnya, hasil survei tersebut jauh berbeda. Mungkin karena minim prestasi sehingga para pimpinan hanya sibuk mengglorifikasi hasil survei.
UIN RIL di masa kepemimpinan Prof. Wan dan Prof. Alam terjebak dalam berbagai kegiatan formalitas simbolistik sehingga abai pada hal-hal yang bersifat fundamental dan substantif. Kampus hanya sibuk mengejar gelar-gelar dan seminar internasional namun mengabaikan Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai pilar utama universitas.
Apa yang dilakukan selama periode kepemimpinan BE-1 dan BE-2 UIN RIL ini ibarat melaksanakan semua ritual shalat sunnah malam, shalat tahajud, dan serangkaian ibadah sunnah lainnya, NAMUN TIDAK SHALAT WAJIB DAN TIDAK PUASA DI BULAN RAMADHAN.
Siaril dalam kajian dan diskusinya terkait calon rektor menyatakan saatnya kita kembali ke "Fitri (suci, bersih, murni)" dalam artian bahwa UIN RIL harus kembali ke khittahnya, kembali kepada Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Berdasarkan penilaian terhadap rekam jejak selama di universitas, Siaril melihat dan berharap perubahan ke arah positif dari sosok calon rektor yang terkenal tegas, berani, cerdas, dan berintegritas tinggi. Sosok tersebut ialah Prof. Dr. Fitri Yanti, M.A.
Kepada Prof. Fitri, Siaril menitipkan harapan dan juga menitipkan almamater tercinta untuk dikembalikan kepada khittahnya. Siaril yakin Prof. Fitri jika terpilih akan mengedepankan ibadah wajib terlebih dahulu, baru ibadah sunnah setelahnya.
penulis : R. Basuki
(rls)
