QueenNews.co.id / PESISIR BARAT — Sikap anti-kritik diduga kuat tengah diperlihatkan oleh pimpinan tertinggi RSUD KH M. Thohir. Alih-alih melakukan evaluasi internal atas bobroknya layanan yang dikeluhkan warga, Direktur RSUD dr. Eva Hadaniah Asryanti, Sp.Rad, justru memilih jalan konfrontatif dengan mempertanyakan hak bicara pasien, Pesisir Barat (09/02/2026).
Melalui sanggahannya di dua media lokal (sakabuana.com dan Lampung.kejarfakta.com), dr. Eva melontarkan pernyataan yang memicu kontroversi: "Mantan pasien juga, iya kupikir kok bisa mantan pasien berbicara seperti itu." Pernyataan ini dianggap sebagai bentuk arogansi birokrasi yang meremehkan testimoni objektif dari pengguna layanan kesehatan.
Meski dr. Eva berupaya membangun narasi seolah-olah pemberitaan tersebut menyudutkan profesi tertentu, jeritan warga di media sosial justru mengungkap tabir yang jauh lebih kelam di balik dinding rumah sakit.
Berikut adalah potret kegagalan manajemen yang diprotes keras oleh masyarakat:
1. Dugaan Pungli & Birokrasi Berbelit: Akun @Arya Kamandanu secara spesifik menunjuk layanan Radiologi—yang ironisnya adalah bidang spesialisasi sang Direktur sendiri: "Di RS M. Kh. Thohir orang kalo mau ronsen pasti dipersulit, padahal seharusnya gampang dan gratis, ada apa?"
2. Fasilitas Sekelas "Puskesmas Pembantu": Akun @BUYUNG BALAK membongkar aib manajemen terkait ketiadaan backup listrik: "Sekelas rumah sakit kok genset tidak berfungsi... Bagaimana mau maju kalau modelnya begini."
3. Budaya "Pasien Buangan": Keluhan mengenai minimnya upaya medis sebelum merujuk pasien menjadi sorotan utama. Akun @retnosuciarardini dan @BUYUNG BALAK mengonfirmasi pola yang sama: pasien hanya dipegang sebentar lalu "dibuang" ke rumah sakit lain dengan surat rujukan, terutama bagi pengguna BPJS.
Secara jurnalistik, tindakan dr. Eva yang mencoba menyeret isu ini ke arah "penghinaan profesi" dinilai sebagai upaya gaslighting—sebuah teknik manipulatif untuk membuat narasumber (pasien) meragukan kebenaran yang mereka alami sendiri.
Seorang Direktur RSUD seharusnya memahami bahwa mantan pasien adalah saksi kunci dalam mengukur indeks kepuasan masyarakat. Mempertanyakan mengapa seorang mantan pasien berbicara mengenai keburukan layanan bukan hanya tidak etis, tetapi juga menunjukkan ketidakmampuan pimpinan dalam menerima fakta lapangan.
Komentar netizen seperti @boy Pangestu yang menyebut "Pejabatnya banyak yang nggak beres" seolah menjadi kesimpulan umum atas karut-marutnya manajemen RSUD KH M. Thohir.
Jika dr. Eva tetap sibuk bersilat lidah di media tanpa memperbaiki unit rontgen yang dipersulit atau mesin genset yang mati, maka keberadaannya sebagai direktur patut dipertanyakan. Publik tidak membutuhkan pembelaan diri seorang dokter spesialis, publik membutuhkan rumah sakit yang berfungsi sebagaimana mestinya.(Tim)

