Queennews: Serikat Alumni Raden Intan Lampung (Siaril) Jabodetabek mengonfirmasi akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di depan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) RI pada Selasa, 10 Februari 2026. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk pengawalan terhadap proses final pemilihan Rektor UIN Raden Intan Lampung (UIN RIL) periode 2026-2030.
Ketua Presidium Siaril Jabodetabek, R. Basuki, menyatakan bahwa aksi ini bertujuan untuk memberikan masukan nyata kepada Menteri Agama agar tidak salah dalam memilih nakhoda kampus hijau tersebut. Siaril menilai, masa depan UIN RIL sedang dipertaruhkan di tangan Menteri Agama.
Kritik Tajam Terhadap "Duet Gagal" Rezim Petahana
Dalam pernyataan sikapnya, R. Basuki menyebut wajah lama seperti Prof. Wan (Petahana) dan Prof. Alam (WR 1 Petahana) sudah tidak relevan dan terbukti gagal memimpin selama empat tahun terakhir. Siaril menyoroti penurunan kualitas pendidikan yang sangat signifikan, yang berdampak pada rendahnya daya saing alumni di dunia kerja.
"Duet Prof. Wan dan Prof. Alam selama ini hanya terjebak dalam formalitas simbolistik. Mereka sibuk mengejar gelar dan seminar internasional, tapi abai pada hal fundamental yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ibarat orang yang sibuk mengejar salat sunnah tahajud, tapi meninggalkan salat wajib dan puasa Ramadan," tegas Basuki.
Siaril juga membongkar adanya "realitas semu" yang selama ini diglorifikasi oleh pimpinan universitas melalui hasil survei. Menurut mereka, pimpinan saat ini terbuai citra positif di atas kertas, sementara minat calon mahasiswa menurun drastis dan kompetensi ijazah alumni sulit bersaing dengan kampus-kampus besar lainnya.
Waspadai Intervensi Pengusaha dan Elit Politik
Lebih lanjut, Siaril mengingatkan Menteri Agama untuk waspada terhadap lobi-lobi politik dan intervensi elit pengusaha lokal maupun Jakarta yang mencoba menitipkan calon tertentu.
"Sangat berbahaya jika Rektor UIN RIL terpilih adalah orang titipan kekuasaan atau pengusaha. Calon yang tidak independen hanya akan membawa mudarat bagi dunia pendidikan. Menteri Agama wajib mendengarkan aspirasi mahasiswa dan alumni, bukan sekadar janji manis lobi-lobi politik," tambahnya.
Harapan Perubahan: Kembali ke "Fitri"
Sebagai solusi atas karut-marut di UIN RIL, Siaril secara terbuka menyatakan dukungannya kepada sosok penantang baru, Prof. Dr. Fitri Yanti, M.A. Nama Prof. Fitri dianggap sebagai representasi perubahan yang cerdas, tegas, berani, dan memiliki integritas tinggi.
"Saatnya UIN RIL kembali ke Fitri—dalam artian kembali ke kesucian, kemurnian, dan khittah Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kami menitipkan almamater kami kepada Prof. Fitri Yanti. Kami yakin, di tangan beliau, universitas akan mengedepankan 'ibadah wajib' pendidikan sebelum mengejar 'ibadah sunnah' formalitas," jelas Basuki.
Tuntutan Aksi Selasa, 10 Februari 2026:
Mendesak Menteri Agama untuk tidak memilih kembali Prof. Wan dan Prof. Alam karena rekam jejak kegagalan kepemimpinan.
Menuntut Transparansi dan independensi pemilihan rektor dari intervensi elit pengusaha dan lobi politik Jakarta.
Mendorong Pelantikan Prof. Dr. Fitri Yanti, M.A. sebagai Rektor UIN RIL 2026-2030 demi perbaikan kualitas dan martabat universitas.
Audit Investigasi terhadap glorifikasi capaian universitas yang dianggap tidak sesuai dengan realitas kualitas alumni di lapangan.
Aksi yang akan digelar di Lapangan Banteng (Kemenag RI) ini diprediksi akan diikuti oleh ratusan alumni yang berdomisili di wilayah Jabodetabek sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan kampus UIN Raden Intan Lampung.
(rls)
